Locations…

Wednesday 25th of October 2006

Dubai, The Palm Island.
palm island
Watched it, and gotta say I’m impressed. They’re going to build another island called “The Earth”, which, obviously, shaped like earth.
Thanks to Google Earth!

Lastly…

Monday 23rd of October 2006

Selamat Hari Raya Maaf Zahir Batin!

A Story From Mahsyar… (Part 2)

Friday 20th of October 2006

(The second last entry sempena Ramadhan)

Musa pun segera dicari. Gerakan mereka sangat cepat dan semakin cepat. Pada saat2 seperti itu seperti kian terasa betapa sangatnya perlunya orang2 soleh. Dan orang soleh itu ialah Musa. Tapi, di manakah ia?

Syahdan tatkala Nabi Musa ditemui di suatu tempat, mereka langsung memberondongnya dengan tuntutan yg sama, “Musa,” seru mereka. ” Engkau adalah utusan Tuhan, dan Tuhan telah mengutamakan engkau dengan risalah dan kalam-Nya. Maka berilah syafaatmu kepada kami. Sampaikan permohonan ampun kami kepada Tuhan.”

Semasa hidupnya, Musa memang telah biasa mendapat tuntutan yg bermacam2 dari kaumnya. Dan sering pula doanya dikabulkan Tuhan memenuhi permintaan mereka. Tapi hairan, kali ini ia merasa tidak sanggup lagi memenuhi tuntutan manusia yg melaut seperti itu. Ia tidak ingat lagi, betapa sangat mudahnya dulu Tuhan mengabulkan hal2 aneh yg jauh di luar kebiasaan. Satu2 nya yg difikirkan kali ini adalah keselamatan dirinya. Maka katanya, ” Tuhan sedang murka yg tidak pernah dan boleh jadi takkan pernah murka lagi seperti ini. Sementara ketika di dunia aku pernah membunuh seseorang tanpa mendapat perintah dari-Nya.” Mengingat itu, timbul rasa ngeri yg amat sangat dalam diri Nabi yg perkasa itu, hingga akhirnya ia mengatakan, “Nafsi, nafsi, nafsi. Tinggalkan aku, pergilah kalian kepada Isa.”

Yang mereka cari sekarang ialah seorang Nabi yang kejadiannya saja sudah merupakan tanda kebesaran Ilahi. Kerana ia terlahir dari rahim seorang ibu yg tidak pernah tersentuh oleh seorang lelaki pn. Dan tatkala lautan manusia itu diam seketika dengan diketemukan Nabi Isa di suatu tempat, kelihatan mereka sudah sangat letih. Setelah sekian lama mereka terombang ambing kian kesana kemari mencari tokoh2 yang dianggap akan dapat memberi syafaat di hadapan Tuhan. “Barangkali Nabi Isalah yg akan dapat memberikan syafaatnya.” Harapan inilah yang membuat mereka selama ini terus bergerak, walaupun ancaman siksa nyata terlihat di depan mata. Sementara itu matahari masih tetap bertengger di atas kepala mereka, dekat sekali, menghunjamkan cahayanya yg membakar.

“Hai Isa, Rasul Allah dan kalimatnya yg telah turun ke dalam diri Maryam. Hai ruh ciptaan-Nya, sejak dari buaian engkau telah dapat bercakap. Berilah syafaatmu kepada kami di hadapan Tuhan. Lihatlah nasib kami yg sengsara ini.”

Namun, anehnya, tokoh yg dulu ketika di dunia oleh segolongan manusia dipuja2, bahkan dianggap sebagai anak Tuhan, ternyata dia pun tidak mampu berbuat apa2 untuk sekadar menghibur wajah2 yg hitam kusam bertimbunkan dosa. Kata2 nya membuat orang kecewa, apa lagi mereka yg dulu pernah menyembahnya. “Sia2 saja dulu kita mempertubuhkan dia,” gerutu mereka, setelah ternyata Isa tegas2 mengalihkan tuntutan mereka kepada orang lain.

“Tuhan telah murka tiada terkira. Dia tidak pernah, atau barangkali takkan pernah lagi murka seperti sekarang ini,” katanya. Nampak sekali pada wajah Isa rasa ngerinya terhadap Tuhan. Entah dosa apakah yg pernah dilakukan terhadap-Nya, sehingga ia pun mengatakan, “Nafsi, nafsi, nafsi.” Dan lengkaplah sudah kekecewaan umat manusia terhadap seluruh tokoh yg pernah mereka puja di dunia, andai Isa tidak kemudian mengatakan, “Mintalah syafaat kepada selain aku. Pergilah kalian kepada Muhammad.”

Mendengar Isa menyebut nama Muhammad, mekarlah hati mereka. Semangat mereka bangkit semula melebihi sebelumnya. Mereka baru ingat nama yg terkenal sejak awal dunia itu. “Kenapa dari tadi kita tidak ingat nama itu. Bukankah ia telah disebut2 oleh seluruh para Nabi?” Kata mereka dalam hati. Dan mulai lautan manusia itu bergerak lagi lebih cepat sekali. Sejauh mata memandang yg nampak hanyalah gelombang kepala manusia yg bergerak2 mencari tokoh yg mereka dambakan,”Muhammad, Muhammad, Muhammad…” Tidak peduli matahari yg semakin ganas membakar kulit mereka, tidak peduli mereka yg dulu pernah membangkang Muhammad dan ajaran2 nya.

Di suatu tempat yg teduh di lapangan Mahsyar itu, hanya beberapa ribu orang saja yg nampak tinggal di situ. Di sanalah Nabi Muhammad SAW tengah dikelilingi oleh para sahabatnya, para Nabi beserta umatnya yang masing2 setia. Nampak Nabi Muhammad SAW sangat terhiba, ketika gelombang manusia datang menghampirinya.

“Ya Muhammad,” seru mereka. Suara mereka telah serak didera penderitaan, hampir tidak kedengaran lagi. “Engkaulah Rasul dan penutup seluruh para Nabi. Tuhan telah mengampuni segala dosamu, dari awal sampai akhir hidupmu. Berilah syafaatmu kepada kami di hadapan Allah. Lihatlah nasib kami yg celaka ini.” Sementara jerit dan lengkingan putus asa terdengar dari segala penjuru.

Tanpa mensia2 kan masa, Nabi yg pengasih itu langsung beranjak dari tempat berteduhnya, meninggalkan para sahabat menuju Arsy. Sementara di belakang mereka wajah juataan manusia menunggu nasib dengan menahan nafas, panas, haus dan lapar.

Sesampainya Nabi Muhammad SAW ke bawah Arsy, beliau langsung bersujud kepada Tuhan. Dipujinya Allah dengan berbagai pujian yg belum pernah diucapkan oleh siapa pun sebelum itu. Agaknya, Allahlah yg mengilhami sedemikian.

“Ya Muhammad,” seru Tuhan setelah cukup lama melihat kekasih-Nya bersujud di hadapan-Nya. “Angkatlah kepalamu dan mintalah, pasti terkabul. Sampaikan syafaatmu, pasti Ku-terima.” Begitu mendengar titah Tuhan yg menggembirakan, di angkatlah wajahnya seraya berkata, “Ummati, ya Rabbi, ummati, Ya Rabbi.” (Umatku, wahai Tuhan, Umatku, wahai Tuhan.) Mengagumkan sekali, sementara setiap orang, termasuk para Nabi, memikirkan nasib dirinya masing2, ia masih sempat memikirkan keselamatan umatnya.

Dengan rahmat yg tiada terukur, Tuhan kemudian bertitah kepadanya, “Ya Muhammad, masukkan ke dalam syurga umatmu yg tidak dihisab dari pintu sebelah kanan. Sedang umatmu yg lain, masukkanlah mereka dari pintu2 yg lain bersama umat2 yg lain.”

Entah bagaimana proses seterusnya, tidak boleh kita membayangkan, tatkala mereka masuk ke dalam syurga.