A Story From Mahsyar…
Monday 16th of October 2006
(The third last special post for Ramadhan)
(Pardon me, it is in BM)
(Quite lengthy as well, but the story is very good)
Hari kiamat telah terjadi, segalanya telah berganti, dan manusia pun telah dibangkitkan kembali.
Umat manusia, dari segala bangsa dari awal hingga akhir dunia, semuanya berhimpun di satu tempat. Di lapangan yang maha luas itu, tidak seorang pun tersembunyi. Semuanya kelihatan, suaranya pun kedengaran. Begitu dekatnya jarak matahari dari kepala mereka, sehingga mereka pun sangat tersiksa. Lapar dan dahaga tiada tertahan, terik matahari bukan alang berteduh. Wajar bila orang pun kemudian berfikir tentang keselamatan diri masing2.
“Tidakkah kamu berfikir tentang penderitaan kita ini? Kenapa tidak dicari orang yg dapat menjadi perantara kita kepada Tuhan? Biarlah ia berdoa kepadaNya untuk keselamatan kita,” Kata2 seseorang kepada sahabatnya. Dan kawannya ini sekonyong2 teringat akan seseorang yg dia fikir akan dapat memberi syafaatnya di hadapan Tuhan, “Ayah kita, Nabi Adam,” katanya.
Maka berduyun2lah mereka pergi mencari Nabi Adam, bapa umat manusia, dalam kelompok masing2 di pimpin mereka sendiri yang pernah menjadi ketua mereka di dunia.
“Hai Adam, ayah kami!” seru mereka. “Bukankah Tuahn telah menciptakan engkau langsung dengan Tangan-Nya, kemudian meniupkan kepadamu ruh ciptaan-Nya, lalu disuruhnya para Malaikat bersujud kepadamu, bahkan engkau telah Dia tempat ke dalam syurganya? Tidak sukakah engkau berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan kami, anak cucumu ini?”.
Cuaca masih tetap panas, ditambah lagi dengan panasnya gelombang manusia yang tengah berdesak-desakan di hadapan Nabi Adam menuntut pertolongan kepadanya. Ketika itu tersalah oleh Nabi Adam, betapa maha dahsyatnya Tuhan bila sudah menampakkan kemurkaan-Nya, sehingga hatinya menjadi cuit. Lalu teringatlah ia akan dosanya dulu yg telah mengeluarkannya dari syurga. “Ah, tidak berani, tidak berani,” fikirnya.
“Tuhanku kini tengah murka, yg belum dan tidak akan pernah lagi murka seperti ini. Padahal, aku pun pernah berdosa besar kepada-Nya. Dia telah melarangku mendekati sebuah pohon, tetapi aku dekati juga.” Tentu saja anak cucu Adam sebanyak itu kecewa melihat sikap leluhur seperti mereka itu. Bahkan mereka lebih kecewa lagi, kerana kemudiannya Adam terang2 an berkata, “Nafsi, nafsi, nafsi,” yang ertinya, “Diriku, diriku, keselamatan diriku inilah yg kini sedang aku fikirkan,”.
Anak cucu Adam mulai meninggalkan tempat itu. Satu demi satu beranjak dari situ dengan wajah kosong. Mereka belum tahu, entah kepada siapa lagi mereka harus meminta bantuan. Melihat itu, sifat kebapaan timbul pada Nabi yang mulia itu. Maka dipesanlah mereka untuk mencari orang lain yg pada fikirnya lebih patut memberi bantuan, “Baiklah, kalian cari saja orang selain aku,” katanya, “Carilah Nabi Nuh, barangkali ia dapat memberi bantuan.”.
Masing2 pemimpin mengajak kaumnya mencari Nabi Nuh. Segalanya terasa berjalan sendiri begitu cepat, begitu singkat. Nah, ketemu! Ini dia Nabi Nuh!
“Hai, Nabi Nuh!” mereka berseru keras sekali tanpa segan lagi. Suasana yg panas membuat mereka nampak tidak sabar. “Engkaulah orang yg pertama menjadi utusan Tuhan ke bumi, dan Tuhan telah memberi gelar kepadamu ‘hamba yg syukur’. Kenapa tidak tuan perhatikan nasib kami saat ini? Berilah kami syafaatmu!”.
Tidak tega juga sebenarnya Nabi mulia itu bercampur kagum melihat manusia sebanyak itu berjejal2, bergerak2 bagai air bah yg pernah dialaminya. Tidak seperti umatnya dulu yg masih sedikit. Teringat kembali olehnya, ketika setelah sekian ribu tahun ia mengajak mereka, ternyata mereka tetap membangkang. Hanya kira2 80 atau 90 orang saja yg rela mengikuti agamanya. Apalah erti hasil pekerjaannya yg dalam tempoh sekian lama itu hanya berhasil menyedarkan orang yg jumlahnya tidak seberapa itu, fikirnya. Berbaloikah hasil pekerjaannya itu dijadikan andaian untuk memohon syafaat bagi manusia sekian banyaknya? Tiba2 teringat olehnya doanya yg maha dahsyat di waktu itu, yg telah dikabulkan Tuhan, iaitu banjir yg tidak kepalang tanggung. Masih adakah sisa dari rahmat Tuhan untuk doaku? Begitulah fikirnya. Dan ia terus berfikir begitu, hingga akhirnya terasa ciutlah hatinya. Rasanya tidak akan ada ertinya doa yg akan ia sampaikan ke hadapannya yg tengah haus pertolongan, betapa pun hancur hatinya. Dalam kehancurannya, ia berkata, “Tuhan sedang murka, yg tidak pernah dan takkan pernah lagi murka seperti ini, dulu doaku telah Dia kabulkan, ketika aku berdoa agar kaumku Dia hancurkan.” Kemudian ia mulai berfikir tentang keselamatan dirinya sendiri, “Nafsi, nafsi, nafsi,” katanya. Dan seperti halnya Nabi Adam, ia juga menasihatkan, “Pergilah kalian, carilah Nabi Ibrahim.”
Kembali mereka mulai bergerak untuk mencari Nabi Ibrahim. Kekosongan langkah mereka mulai terisi dengan harapan baru. Cepat sekali langkah gerakan mereka. Dalam gelombang panas yg maha dahsyat, jerit tangis mereka terdengar di mana2. “Ibahim, Ibrahim, di mana kau?”
“Ibrahim, ini dia Ibrahim!” seru mereka. Lega rasanya setelah mereka bertemu dengan Nabi yang terkenal kuat menerima cubaan itu. Kepadanya harapan mereka tertumpah ruah, “Engkaulah penghuni bumi yg pernah menjadi Nabi dan Khalilullah. Belalah kami di hadapan Tuhan. Kau tahu betapa nasib kami sekarang.”
“Tuhanku kini sedang murka sekali. Belum pernah, dan barangkali tidak akan pernah lagi murka seperti sekarang ini. Kalian tahu, aku pernah berdusta tiga kali.” Mereka terhairan2 mendengar pengakuan Nabi Ibrahim seperti itu. tapi Nabi Ibrahim sendiri masih ingat betul, ketika ia terpaksa berdusta, tidak mengaku menghancurkan berhala2 kaum Namrud, padahal dialah yg menghancurkannya. Juga ketika ia mengaku bahawa Sarah hanyalah saudaranya, padahal jelas ia isterinya yg sah, agar tidak terancam hidupnya sebagai orang baru Mesir, kerana agaknya raja menginginkan isterinya. Dan kali ketiganya ketika megakui bintang, bulan, dan matahari sebagai tuhannnya dalam rangka membimbing jalan fikiran suatu kaum dlm perjalanannya dari Bebilonia ke Palestina, walaupun akhirnya semua itu dibantahnya sendiri dan hanya mengakui Tuhan Yg Maha Esa yg menguasai segala2 nya. Semua itu membuat hatinya semakin ciut di hadapan Tuhan. Tidak berani rasanya ia memohonkan ampun untuk orang2 yang sama2 berdosa seperti dia. Hingga akhirnya iapun kembali memikirkan nasib dirinya, selamatkah aku? Maka katanya, “Nafsi, nafsi, nafsi. Tinggalkanlah aku, mintalah tolong kepada Musa.”
To Be Concluded…
The Price of Jerusalem…
Sunday 15th of October 2006
Jerusalem is considered the third holiest city in Islam. Mecca is the first, and then Medina. (Yeah, I’ve been reading about this since it is Ramadhan). Just take a look at this picture below, and now everybody understand why. This rock is believed wanted to follow our Prophet Muhammad S.A.W. to the Jannah during Isra’ and Mi’raj (or rather just Mi’raj).
This is just one of the many reasons why Jerusalem is important, along with Masjidil Al-Aqsa, The Dome of Rock and many more. Unfortunately it is also considered a holy city by the other two religions, Christianity and Judaism.
It said that as long as the Suboh prayer is not as many people as the Friday prayer, then Jerusalem will still be under control by the Jews. Such is the price of Jerusalem.
The Earliest Conflict in Islam…
Thursday 5th of October 2006
(Ramadhan special entry)
It begins right after the death (wafat) of prophet Muhammad S.A.W.
In 632 Muhammad S.A.W had been ailing for some time, but seemed to have recovered somewhat. He left his house to take part in prayers at the mosque, then returned to his quarters and died.
While Ali and the rest of Muhammad’s S.A.W close family were washing the prophet’s body for burial, at a gathering attended by a small group of Muslims at Saqifah, the sucession was given to Abu Bakr by vote. According to Ahlul Sunnah Wal Jamaah accounts, Muhammad S.A.W died without having appointed a successor, and with a need for leadership, they gathered and voted for the position of caliph. Shi’a accounts differ by asserting that Muhammad S.A.W had designated Ali as his successor on a number of occasions, including on his death bed. Ali had many friends, followers and supporters who believed that he should have succeeded Muhammad S.A.W. This did not create an immediate division, however, because Ali did not fight against the elected caliphs.
The succession to Muhammad S.A.W is an extremely contentious issue. Muslims ultimately divided into two branches based on their political attitude towards this issue, which forms the primary theological barrier between the two major divisions of Muslims: Ahlul Sunnah Wal Jamaah and Shi’a, with the latter following Ali as the successor to Muhammad S.A.W.
The Sunnah Muslims say that if Ali was the rightful successor as ordained by God Himself, then it would have been his duty as the leader of the Muslim nation to make war with these people (Abu Bakr, Umar, and Uthman) until Ali established the decree. But Ali did not fight Abu Bakr, ‘Umar nor Uthman because if he decided to, it would have caused a civil war amongst the Muslims, which was still a nascent community throughout the Arab world.
Go figure.
